Minggu, 10 April 2022

tektonik lempeng

 Teori Tektonik Lempeng dapatlah dikatakan sebagai “kristalisasi” dari banyak teori yang menyatakan bahwa struktur bumi ini sesungguhnya bersifat dinamis. Perubahan total cara berfikir dan diterimanya konsep ini terjadi dalam tempo yang lama seiring makin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Sebelum digunakannya terminologi “Tektonik Lempeng”, konsep bumi yang dinamis mula-mula di pelopori oleh teori Continental Drift (Pergeseran Benua) yang diperkenalkan oleh meteorologist asal Jerman Lothar Wagener pada Tahun 1915. Teorinya menyatakan bahwa pada periode Kapur (sekitar 200 juta tahun lalu), semua benua dulunya menyatu dalam satu superbenua yang di sebut Pangea, namun kemudian terpecah menjadi kontinen-kontinen yang lebih kecil, lalu berpindah secara mengapung menempati posisinya seperti sekarang ini.

Gambar 1. Ilustrasi Teori Continental Drift. Menurut teori ini Bumi dahulunya hanya satu daratan yang disebut Pangea.  (Sumber: britannica)

 

Untuk mendukung teorinya, Wegener mengemukakan penemuan ilmiahnya sebagai bukti tentang adanya super-kontinen Pangaea tersebut, diantaranya adanya kecocokan/kesamaan Garis Pantai antara Benua Afrika dan Amerika Selatan, kesamaan fosil dan kesamaan batuan, namun begitu Wegener tidak mampu menjelaskan secara mendasar gaya-gaya apa yang bisa menggerakkan benua-benua tersebut saling menjauhi satu sama lainnya. Wegener hanya menerangkan dengan sangat sederhana bahwa pergerakan benua-benua tersebut terjadi di atas dasar samudera. Pendapat ini kemudian banyak dipertanyakan oleh para ahli, Harold Jeffreys salah satunya, seorang ahli geofisika terkenal dari Inggris mengatakan adalah tidak mungkin sebuah massa yang sangat besar tidak terpecah ketika bergerak di lantai samudera. Demikianlah pertanyaan tersebut masih menjadi misteri yang belum bisa terpecahkan sehingga tidaklah mengejutkan, bahwa Teori Continental Drift tidak diterima dengan baik pada masa itu.

 

Setelah meninggalnya Wegener, Teori Continental Drift secara berangsur hampir dilupakan karena dianggap tidak biasa, absurd, dan tidak mungkin terjadi. Akan tetapi, banyaknya bukti baru yang timbul di awal tahun 1950-an membangkitkan kembali perdebatan tentang teori dari Wegener itu, terutama setelah adanya perkembangan teknologi eksplorasi pemetaan bawah laut pada periode tahun 1950-an (Gambar 2).

 sumber:https://desdm.bantenprov.go.id/read/berita/297/MENGENAL-TEORI-TEKTONIK-LEMPENG.html



 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GERHANA

  Gerhana   adalah fenomena   astronomi   yang terjadi apabila sebuah   benda angkasa   bergerak ke dalam   bayangan   sebuah benda angkasa ...